JAKARTA. Industri perkapalan domestik kembali bangkit. Setidaknya, hal ini terlihat dari kinerja dua emiten perkapalan, yakni PT Soechi Lines Tbk dan PT Logindo Samudramakmur Tbk.

Mengacu laporan keuangan Soechi, pendapatan emiten berkode saham SOCI ini pada 2014 sebesar US$ 127,48 juta, naik 20% dari 2013. Sementara, laba bersih tercatat US$ 33,24 juta atau tumbuh 10% dari laba 2013 yang tercatat US$ 30,25 juta.

Sementara PT Logindo Samudramakmur tahun lalu mencatat pertumbuhan pendapatan 17% menjadi US$ 69,01 juta. Sementara, laba bersihnya naik 21% ketimbang periode yang sama 2013.

Kinerja Soechi Lines ditopang bisnis distribusi migas milik PT Pertamina. Selama ini, ada 200 unit kapal yang mendistribusikan minyak ke Pertamina. Dari jumlah ini, 30 kapal dimiliki Soechi.

Perusahaan ini optimistis, positifnya kinerja tahun lalu bakal kembali terulang tahun ini. Sebab, Soechi masih memiliki agenda mendatangkan tujuh kapal ukuran bervariasi yang bakal tiba bulan ini.

Selain itu, perusahaan ini juga berharap mendapat fulus dari bisnis galangan kapal atau ship yard. Lantaran sudah mendapat proyek mengerjakan lima kapal tanker dengan total kontrak US$ 92 juta. “Kontribusi bisnis ship yard bisa mencapai 20% dari total pendapatan 2015,”ucap Paula Marlina, Direktur Keuangan Soechi Lines kepada KONTAN, Rabu (1/4).

Manajemen Soechi juga berupaya agar bisa memoles kinerja tahun ini, di tengah kondisi rupiah yang lesu. Soalnya, pendapatan SOCI seluruhnya pakai mata uang dollar AS. Sedangkan 50% dari beban penjualan memakai rupiah.

Misalnya, untuk sewa kapal, perusahaan ini mematok dengan kurs dollar AS. “Misalnya kapal ukuran medium size tarifnya US$ 10.000-US$ 18.000 per hari,”tambah Paula.

Dengan dasar tersebut, SOCI membidik pertumbuhan pendapatan 30% hingga 40% tahun ini. Dengan realisasi pendapatan tahun lalu sebesar US$ 127,48 juta, artinya tahun ini manajemen membidik angka pendapatan US$ 165, 72 juta-US$ 178,47 juta.

Logindo juga mampu mencetak pertumbuhan pendapatan 17% tahun lalu karena ditopang pembelian lima kapal berukuran besar. Kelima kapal tersebut telah berkontribusi 40% terhadap total pendapatan LEAD tahun lalu. Apalagi perusahaan ini tahun lalu mendapat kontrak baru dan sebesar US$ 180 juta.

Tentunya, manajemen berharap kinerja tahun ini bisa tetap positif. Namun, manajemen memilih sikap yang lebih konservatif.

Sementara sekretaris perusahaan Logindo, Sundap Carulli bilang turunnya harga minyak dunia membuat manajemen berhati-hati untuk ekspansi bisnis tahun ini. “Mungkin semester II baru ekspansi,”jelas dia.

Yang jelas, tahun ini Logindo mengincar pertumbuhan pendapatan 15%-20% tahun ini dan sudah menyiapkan belanja modal US$ 80 juta.

Perusahaan ini sudah mengamankan dana dari penerbitan obligasi global US$ 50 juta yang diterbitkan Februari 2016. Dana ini untuk membeli empat-lima kapal baru.

Namun, ada juga beberapa pebisnis pelayaran yang pertumbuhan bisnisnya kurang moncer. Misalnya PT Wintermar Offshore Marine Tbk yang membukukan pendapatan US$ 176,91 juta tahun lalu. Padahal, 2013 membukukan pendapatan US$ 195, 47 juta.

Pendapatan PT Bina Buana Raya Tbk juga susut jadi US$ 33,95 juta tahun lalu, dari sebelumnya US$ 37,28 juta di 2013.

Begitu pula pendapatan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) tahun lalu yang turun 10,5% dari US$ 151,1 juta di 2013 menjadi US$ 135,3 juta tahun lalu. Laba bersih perusahaan ini juga anjlok 47,4 % dari US$ 38,3 juta di 2013 menjadi US$ 20,1 juta. “Penurunan pendapatan terjadi karena kami menurunkan tarif jasa pengangkutan batu bara,”kata Rico Rustombi, Presiden Direktur Mitrabahtera Segara Sejati.

Meski begitu, perusahaan ini optimistis kinerja tahun ini masih bisa positif. Apalagi dengan adanya rencana pemerintah yang menggulirkan mega proyek listrik 35.000 megawatt (MW). Rencana ini bisa memberi prospek positif terhadap bisnis angkutan batubara yang menjadi tulang punggung Mitrabahtera.

BISNIS INDONESIA – 2 APRIL 2015